Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Siapa Sangka, Pelihara Magot Sebagai Solusi Sampah Organik Mendatangkan Pundi-pundi Rupiah Yang Banyak



PLAYEN, (smtourtravel.online) - Dalam pengolahan sampah sampai saat ini tentu masih menjadi pekerjaan rumah bagi pihak-pihak terkait dan masyarakat, utamanya yang tinggal di kota-kota besar. Setiap harinya volume sampah baik yang dihasilkan dari rumah tangga maupun industri terus bertambah.

Umumnya sampah yang berasal dari rumah tangga kebanyakan hanya berakhir dibuang di TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah). Selebihnya didaur ulang dan dijadikan sebagai pupuk kompos atau malah hanya dibakar saja. Mungkin ketika kita berinisiatif ingin mengolah sampah, akan membutuhkan teknologi yang rumit dan sedikit mahal.

logo Smart Ads rajawali elt ads  ksmart biz ads lestari mete

nabung coin


Namun tenang saja, bagi yang ingin mengolah sampah, utamanya sampah organik, kini telah terjadi terobosan metode untuk mengolahnya dengan cara yang lebih sederhana dan biaya yang sangat murah meriah. Cara mengolah sampah yang berikut ini tidak membutuhkan biaya yang mahal. Yang dibutuhkan hanyalah serangga yang berfungsi sebagai pengurai sampah.

Mengolah sampah dengan berbasis serangga, saat ini memang tengah dikembangkan oleh sebagian orang. Salah satunya adalah Rahmat Trianto (47), warga Padukuhan Banaran IV RT 39/06, Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul. Ia menjadi ketua kelompok budi daya magot. Wilayahnya terpilih sebagai Kampung Tangguh Nasional (KTN) dari TNI, sebagai salah satu pelaksanaan program Ketahanan Pangan Nasional.





Rahmat menjelaskan bahwa dengan membudidayakan magot ini  merupakan salah satu solusi mengatasi sampah organik dan progres untuk menunjukkan ketahanan pangan yang justru akan menghasilkan rupiah. Ya, jenis serangga yang digunakan untuk mengurai sampah ini bernama 'Magot'. Magot adalah larva atau belatung anakan dari lalat hitam (bukan lalat biasa) yang ketika hidupnya sudah tidak pernah makan lagi, kecuali bereproduksi, bertelur kemudian mati. Begitu pun pejantannya setelah kawin lalu mati. Lalat ini bentuknya lebih menyerupai lebah dan lazim disebut 'Black Soldier Flies (BSF)'.

"Potensi bisnis dari mengatasi masalah sampah ini adalah di budi daya magotnya. Harga magot saat ini Rp. 9.000,- per kg. Berfungsi sebagai pengganti pakan ikan (pelet) dan ayam (BR) dengan kandungan gizi yang tinggi yang dibutuhkan hewan ternak," jelasnya.




"Tak hanya itu, feses (kotoran) magot, pejantan dan indukan yang mati setelah bereproduksi dapat disatukan menjadi pupuk organik yang memiliki unsur fertilisasi tanah melebihi pupuk kompos biasa dan urea. Pupuk ini bernama 'Kasgot' alias bekas magot. Di kelompok kami, hasil penjualan kasgot ini digunakan sebagai kas kegiatan sosial" imbuhnya.    


Baca juga : Patut Ditiru, Peternak Lele Ini Dapatkan 3 Piagam Penghargaan Sekaligus  

Berikut manfaat mendasar budi daya magot, antara lain : 

1 . Dapat mengurai sampah

Magot atau larva atau belatung yang dihasilkan dari tetasan telur lalat hitam BSF sangat aktif memakan sampah organik. Sampah rumah tangga seperti sayuran, buah, sisa makanan olahan termasuk daging dan lainnya yang bersifat organik bisa sangat cepat diurai menjadi pupuk. Bila kuantitas makanan magot masih kurang, dapat memanfaatkan gedebong dan pelepah pisang yang mulai membusuk. Dapat juga memanfaatkan kotoran ternak ayam potong atau petelur yang jatuh di bawah kandang dan diberi magot.

2. Tidak berbau

Sampah organik yang sudah membusuk tentu akan menimbulkan bau yang tak sedap dan itu sangat mengganggu lingkungan. Untuk mencegah hal tersebut, justru sampah yang paling berbau akan lebih dulu diserang dan dimakan oleh magot ini sehingga tak ada lagi polusi udara berupa aroma tak sedap.

3. Bisa menghasilkan pupuk

Magot-magot tersebut ketika dibudidayakan, tentu akan mengeluarkan feses atau kotoran dan kotoran-kotoran tersebut ditambah ratusan ribu hingga jutaan pejantan dan indukan yang telah mati bisa dijadikan sebagai pupuk bernama kasgot. Kasgot ini tentu sangat baik sebagai pupuk organik alami. Hal ini jelas bisa mengurangi biaya perawatan tanaman dalam hal pembelian pupuknya bagi petani dan pecinta tanaman hias serta kebutuhan taman.

4. Magot bisa digunakan sebagai alternatif pakan ternak

Tak dipungkiri, saat ini pakan ternak di pasaran harganya cukup tinggi. Nah, untuk menekan biaya pembeliannya, terutama ternak ikan dan ayam, magot bisa digunakan sebagai salah satu alternatif pakan yang cukup murah namun bergizi tinggi. Magot yang dikeringkan juga tersedia untuk peliharaan burung berkicau.

5. Biaya cukup murah

Mengolah sampah organik dengan bantuan magot tentu sangat murah dibandingkan dengan mengolah sampah menggunakan peralatan berbasis teknologi. Hal utama yang dipersiapkan, untuk penangkaran BSFnya cukup menyediakan kandang yang terbuat dari kayu dan strimin hitam atau kelambu. Dan untuk pembesaran magotnya cukup bikin bak-bak kayu kecil yang dilapisi dengan banner bekas. Hal ini tentu akan lebih murah dan sangat menghemat biaya.

Bagaimana dengan biaya pakan magotnya? Cukup mengkoordinir di wilayah desa atau kampung masing-masing bahwa tempat budi daya merupakan bank sampah yang siap menampung limbah organik. Hal ini tentu akan menjadi solusi gratis bagi warga atau dapat juga pihak pembudi daya memberikan imbalan sewajarnya dan membuat slogan, "Buang Sampah Dapat Rupiah". Selain itu, bila di perkotaan, makanan magot dapat diperoleh dari limbah pasar berupa sayuran dan buah-buahan yang telah rusak dan tak laku dijual. 




Teknis budi daya :

1.  Siapkan kandang pembibitan bila ingin melakukan penangkaran atau bila hanya ingin mengkhususkan pembesaran, cukup buat kotak-kotak kecil berdimensi panjang 1m x lebar 60 cm x tinggi 30 cm dilapisi banner bekas.

2. Cari bibit dari tempat penangkaran. Bibit dapat berupa telur BSF yang belum menetas atau sudah berbentuk magot yang berumur 5-7 hari.

3. Pelihara magot dengan asupan pakan seperti teruraikan di atas. Jangka waktu memelihara hanya 20 hari dihitung sejak magot mulai menetas. Dalam kurun waktu tersebut magot bisa diperjualbelikan sebagai pakan ikan atau ayam tergantung nilai bobot yang diinginkan. Mulai umur 25 hari ke atas, magot akan berubah menjadi 'Repupa', warna magot mulai menghitam bersiap menjadi 'Pupa' atau kepompong, diperlukan waktu 7 hari dalam stadium ini.

4. Pada saat magot menjadi pupa ini, pembudi daya dapat mempersiapkan tempat untuk metamorfosis berupa kandang BSF tadi. Namun bagi yang mengkhususkan diri hanya pada tahap pembesaran magot maka pupa ini dapat disetorkan kembali kepada pembudi daya yang melakukan penangkaran. Perhitungan jual belinya sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

5. Proses metamorfosis dari pupa menjadi BSF membutuhkan waktu 7 hari juga. Sedangkan umur setelah menjadi BSF hanya 5 hari untuk melakukan reproduksi dan tidak memerlukan pakan dalam proses ini. BSF sudah tidak mau makan dalam fase kawin dan bertelur, kemudian mati secara alamiah.

Nah, demikian sekilas metode mengatasi masalah sampah organik yang dapat mendatangkan pundi-pundi rupiah. Tertarik menjadi pelopor mengatasi masalah limbah di lingkungan Anda atau menjadi pembudi daya pakan ternak alternatif bergizi tinggi? Lebih cepat tentu akan lebih baik direalisasikan. 


(Heru Bencex)




Tonton Juga



Simak juga : video berita menarik smart news
beranda

beranda


Posting Komentar

0 Komentar