Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Ngintip Dapur Keris Pandawa, Penuh Filosofi



WONOSARI, (smtourtravel.online) -
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kami yakin belum banyak yang tahu tentang peninggalan leluhur yang satu ini, yang syarat dengan sejarah dan filosofi yang tinggi. Meski dalam keseharian sering menjumpai benda ini. Pun bagi masyarakat Jawa sendiri belum tentu memahami secara mendalam. Walau barang ini identik dengan budaya Jawa.

Kali ini, smart news ingin sedikit mengulas cerita budaya leluhur yang sampai saat ini masih eksis dan terjaga kelestariannya ini. Benda ini bernama Keris. Awalnya benda ini merupakan senjata taktis dalam pertempuran namun dalam perkembangannya lebih mencirikan sebagai ageman (pelengkap diri) para leluhur jaman dahulu yang mengeskpresikan diri, baik itu karakter, visi, misi, motivasi, keinginan dan sebagianya. Karena di balik perwujudan sebuah keris terdapat banyak sekali hal yang sebentar lagi akan sedikit dibahas.

logo Smart Ads rajawali elt ads smart biz ads lestari mete

nabung coin


Sebagian masyarakat Jawa hingga kini masih menjaga dan melestarikan warisan ini. Meski banyak juga yang salah persepsi, mengira barang ini sebagai salah satu benda musrik. Keris memiliki berbagai macam dapur dan diikuti bermacam motif, dikenal sebagai pamor yang menunjukan kepribadian dan karakter dari si pemegang keris ini, bisa juga mencirikan si empu pembuatnya. 

Ada berbagai macam keris tersohor yang menjadi buruan banyak kolektor di era milenial ini. Di antara keris idaman yang banyak diburu adalah dapur Pandawa. Keris berdapur Pandawa ini identik dengan keris-keris yang digunakan para raja dan ningrat bangsawan jaman dahulu. Selain memiliki kewibawaan yang kuat, keris ini juga memiliki banyak mitos di dalamnya.





Keris Pandawa juga terbagi menjadi beberapa dapur, antara lain, Pandawa Cinarito, Pandawa Lare, Pulanggeni, Kolonadah dan masih banyak lagi.
 
Keris Pandawa biasanya dilihat dari jumlah luk atau lekukan pada bilahnya yang berjumlah 5, seperti layaknya para kesatria Pandawa yang berjumlah 5 orang pula. Selain itu, banyak cerita yang mengisahkan tentang keris Pandawa ini, semisal keris Pandawa Lare yang memiliki cerita di balik penamaannya ini.

Konon diceritakan, keris Pandawa Lare ini diambil dari cerita pewayangan yang berkisah tentang Pandawa Lare (anak-anak Pandawa). Dahulu kala ketika dalam pengasingan keluarga Pandawa. Ibu kunti menyuruh Arjuna dan Bima untuk mencarikan makan untuk adik-adiknya, yakni Nakula dan Sadewa yang waktu itu masih kecil.

Waktu itu Arjuna datang lebih dahulu dengan membawa dua bungkusan nasi, namun ibu Kunti tidak langsung saja memberikan makanan itu kepada Nakula Sadewa. Ibu Kunti menanyakan asal usul nasi bungkus itu dari mana. Arjuna pun menjawab bahwa nasi bungkus itu ia dapatkan dari seorang Lurah dari desa Sendang Kendayakan. Namun ibu Kunti berkata, 

“Kalau nasi itu kamu peroleh dari belas kasihan seseorang maka makanlah sendiri, jangan kau berikan kepada adik-adikmu”.

Kisah yang sesungguhnya adalah Arjuna mendapatkan nasi itu dari ki Lurah Sogotra yang menganggap Arjuna telah berjasa, berkat pertolongannya, ki Lurah Sogotra dan istrinya bisa kembali mesra. Sang istri yang tadinya acuh tak acuh kepada ki Lurah, berkat bujukan Arjuna, istri ki Lurah kembali sayang kepada ki Lurah. Bahkan saking bahagianya, ki Lurah bersumpah siap menjadi tumbal peperangan Baratayuda untuk kemenangan keluarga Pandawa.


Baca juga : Membanggakan, Kehidupan Kampung Reog Di Tengah Kemegahan Kota Surabaya 

Tak berapa lama, Bima pun datang dengan membawa dua bungkus nasi juga, ia menceritakan bahwa nasi itu didapatnya dari imbalan atas keberhasilannya mengalahkan prabu Dawaka yang sering memangsa manusia. Rakyat di desa itu berterima kasih dan meminta Bima untuk menjadi rajanya namun Bima menolak, Bima hanya meminta beberapa bungkus nasi saja dan mereka pun dengan suka cita memberikan bungkusan nasi itu.

Setelah mendengar cerita itu ibu Kunti berkata,

“Berikan kedua nasi itu untuk adik-adikmu agar dimakannya karena nasi itu kau peroleh dengan kerja kerasmu”.

Keluarga Pandawa tetap menjunjung tinggi harga diri meskipun dalam pengasingan, tidak boleh mengharap belas kasih seseorang tanpa ada kerja keras yang dilakukan. Dalam sisi religi, cerita ini menyampaikan pesan bahwa keimanan dan berserah diri itu wajib selama hidupnya. Dalam kisah keluarga Pandawa tidak pernah sedikitpun menghujat Tuhan, terutama marah atau mencaci ibu yang sudah mengandung dan melahirkannya.

Sepenggal kisah dari Pandawa Lare inilah yang kemudian diberikan sebagi label untuk memberi makna pada keris berluk 5, dengan ricikan gandik lugas, lambe gajah, jalen, kembang kacang, pejetan, tikel alis dan greneng.

Demikian kurang lebihnya, sedikit penjelasan yang kami sampaikan semoga bermanfaat. Mari bersama-sama untuk terus melestarikan budaya leluhur agar tidak terlupakan dan punah. Salam budaya..lestari budayaku. 




(GalineAs)




Tonton Juga



Simak juga : video berita menarik smart news
beranda

beranda


Posting Komentar

0 Komentar