Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Sultan Prabu Wijaya, Seorang Raja Yang Dikenal Legowo Di Tanah Jawa



SRAGEN, (smtourtravel.online) -
Minggu, 03 Januari 2021, team Smart News berkesempatan berkunjung ke Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah. Tepatnya ke lokasi Makam Butuh. Jika traveler ke sana, alangkah baiknya menggunakan Google Map karena lokasinya berada di dalam perkampungan warga. Di kompleks makam Butuh ini, terdapat pasarean orang-orang terkemuka yang turut mengukir sejarah di tanah Jawa. Dari nama Dusun Butuh inilah juga muncul tokoh awal yang melegenda, yakni Ki Ageng Butuh. 

logo Smart Ads rajawali elt ads smart biz ads lestari mete

nabung coin


"Ki Ageng Butuh adalah nama lain dari Ki Kebo Kenongo atau dikenal juga sebagai Ki Ageng Pengging, saudara kandung dari Ki Kebo Kanigoro dan Ki Kebo Amiluhur, anak dari Sayyid Muhammad Kebungsuan alias Pangeran Andayaningrat atau terkenal dengan sebutan Ki Ageng Pengging Sepuh yang beristri dengan Retno Pembayun, putri dari Prabu Brawijaya V. Ki Ageng Butuh merupakan salah satu murid kesayangan dari Syaikh Siti Jenar. Beliau menikahi putri Syaikh Siti Jenar yang kemudian dikenal dengan sebutan Nyi Ageng Pengging dan memiliki putra bernama Mas Karebet. Namun dikarenakan suatu saat orang tuanya menderita kekalahan dalam suatu peperangan maka Mas Karebet kecil kemudian dititipkan oleh Sunan Kali Jaga kepada Nyi Ageng Tingkir untuk diasuh, yang tak lain adalah saudara seperguruan KI Ageng Butuh dalam belajar agama dari Syaikh Siti Jenar. Nama Tingkir inilah yang kemudian dibawa Mas Karebet menjadi berjuluk Jaka Tingkir," terang Aziz, juru kunci makam Butuh dalam obrolannya.  

Ketika Jaka Tingkir mulai menginjak dewasa, ia sudah mulai dikenal masyarakat kerena kebiasananya yang suka mengobrak abrik sarang penyamun. Setelah dewasanya, Jaka Tingkir diangkat menjadi sesepuh desa dan dihormati warga. Ia kemudian diberi julukan KI Ageng Tingkir II. Beliau adalah orang yang tadinya diselamatkan oleh Sunan Kali Jaga dari peperangan dengan Demak. Karena wajah di kala bayinya yang memancarkan sinar. Sunan Kali Jaga membawanya dan dititipkan ke Nyi Ageng Tingkir yang juga merupakan istri dari Ki Ageng Tingkir I alias Ki Kebo Kanigoro, saudara ayah kandungnya. Tak hanya sampai di situ, Sunan Kali Jaga pun suka rela membimbing dan mengajari berbagai ilmu termasuk agama kepada Jaka Tingkir. Hingga ia memiliki kesaktian yang luar biasa.



Makam Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang I


Singkat cerita, Jaka Tingkir menjadi Raja Pajang pertama dengan gelar Sultan Hadiwijaya dan memiliki anak yang bernama Pangeran Benowo. Namun sebelumnya, Jaka Tingkir juga mengangkat anak, putra dari Ki Ageng Pemanahan yang bernama Danang Sutowijoyo yang di kemudian hari bergelar sebagai Panembahan Senopati, Raja Mataram Islam I. Pada saat itu Jaka Tingkir yang menikah dengan Ratu Mas Cempaka, putri dari Sultan Trenggana, Raja Kasultanan Demak III, belum dikaruniai anak (R Benowo belum lahir). 

Suatu ketika Pangeran Benowo dewasa, ia mendapatkan amanah dari ayahnya untuk menyelidiki kesetiaan Panembahan Senopati kepada kerajaan Pajang, di mana sang Panembahan telah memiliki tlatah yang bernama Mataram. Pangeran Benowo pun berangkat bersama dengan kakak iparnya yang menjadi Adipati Tuban, bernama Aryo Pamalad dan Patih Monconegoro.

Sesampainya di Mataram, Pangeran Benowo disambut Panembahan Senopati dengan ramah tamah namun tak disangka, ketidak sopanan prajurit yang dibawanya malah berujung maut. Raden Ronggo, putra Panembahan Senopati tak sengaja membunuh prajurit dari Tuban tersebut. Aryo Pamalad pun marah dan kembali ke Pajang, melaporkan kejadian ini kepada Raja Pajang. Aryo Pamalad melaporkan bahwa Panembahan Senopati memang tidak setia dan berusaha menjatuhkan Pajang. Namun berbeda dengan Pangeran Benowo yang sangat bijak, ia melaporkan bahwa terbunuhnya prajurit Tuban oleh karena ulahnya sendiri dan Raden Ronggo tak sengaja membunuhnya.

Pada Tahun 1582, ucapan Aryo Pamalad pun terbukti, kerajaan Mataram menyerang Pajang dan berhasil mengalahkan Pajang. Pangeran Benowo yang seharusnya menggantikan Raja Pajang disingkirkan oleh kakak Iparnya, yaitu Aryo Pangiri ( Adipati Demak ).

Pada Tahun 1586, Pangeran Benowo yang saat itu menjabat menjadi Adipati Jipang Panolan, bersekutu dengan Panembahan Senopati untuk menjatuhkan Aryo Pangiri yang dinilai tidaklah adil dalam menjalankan pemerintahan Pajang.
Merekapun berhasil menjatuhkan Aryo Pangiri dan mengirimnya pulang ke Demak. Pangeran Benowo pun kemudian menawarkan tahta kerajaan Pajang kepada saudara angkatnya sang Panembahan Senopati, namun Panembahan Senopati menolaknya dan hanya meminta beberapa pusaka Pajang saja. 


Baca juga : Ki Ageng Wonokusumo, Pendakwah Agama Islam Di Gunungkidul Yang Legendaris 

Dengan terpaksa Pangeran Benowo harus bertahta sebagai raja kerajaan Pajang selanjutnya, bergelar Sultan Prabu Wijaya. Namun ia hanya memerintah dalam kurun waktu satu tahun saja, dari tahun 1586 - 1587. Pangeran Benowo kemudian menyerahkan kawasan Pajang kepada Panembahan Senopati dan memilih untuk menjadi ulama. Kerajaan Pajang pun akhirnya di bawah naungan Mataram dan Bupati Pajang yang diangkat, bernama Gagak Baning, adik Panembahan Senopati.

Pangeran Benowo pun melanglang buana menyebarkan agama Islam dan di hari tuanya, beliau kembali ke desa Butuh, meneruskan pesantren yang didirikan ayahnya. Hingga wafat dan kemudian dimakamkan bersandingan dengan keluarga besarnya.




Makam Butuh terdiri dari pasarean : 
1. K.A Kebo Kenongo / KA Pengging / KA Butuh
2. Ny.A Kebo Kenongo
3. Sultan Hadiwijoyo / RM Karebet / R Jaka Tingkir
4. K.P Benowo / Sn Prabu wijoyo
5. K.P Monco Negoro
6. K.Tmg. Wilomarto
7. K.Tmg. Wiragil
8. K.P Tedjowulan
9. K.Rt. Kadilangu
10. K.P.H Sinawung
11. K.R Adinegoro
12. Garwo
13. R.Ay. Pagedongan
14. R.Ay. Kodok Ijo
15. KA. Ngerang
16. Ny.A. Ngerang
17. K.P.H Mas Demang Brang Wetan

Di lokasi makam ini pun terdapat sebuah batang pohon bekas getek Jaka Tingkir. Saat kekalahan dalam peperangan dan kembali ke Tabon ayahnya di Butuh. Getek itu pun diabadikan masyarakat sekitar dan diberi bingkai kaca agar tidak rusak.

Dari sepenggal kisah Pangeran Benowo alias Sultan Prabu Wijaya di atas bisa disimpulkan bahwa tahta bukanlah segalanya, beliau lebih memilih berhenti dan bertafakur kepada Allah. Bahwa sesungguhnya tiada penguasa abadi selain Sang Penguasa Alam Semesta. Sangat bijak untuk belajar dari sejarah, sebelum sejarah itu terulang dan kembali mengajari kepada kita. 


Batang pohon yang dijadikan getek


(GalineAs)




Tonton Juga



Simak juga : video berita menarik smart news
beranda

beranda


Posting Komentar

0 Komentar