Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Pendidikan Karakter Melalui Latihan Karate Secara Intensif, Mengejutkan Hasilnya



WONOSARI, (smtourtravel.online) - 
Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, mens sana in corpore sano. Demikian motto yang selalu kita ingat tentang olahraga. Apapun jenis olahraganya pasti positif hasilnya, asal sesuai porsinya.

Menurut ilmu psikologi, karakter adalah bagian dari kendali cara berpikir, berbicara dan bertindak yang merupakan reaksi bawah sadar yang mempunyai porsi 90% dari keseluruhan fungsi otak, disamping naluri bawaan pengaruh gen manusia. Selebihnya yang 10% merupakan otak sadar. Ya benar, kesadaran porsinya hanya segitu. Maka penentu baik buruk, maju berkembang dan tidaknya masa depan bisa disimpulkan, baik bagi manusia itu sendiri atau pun perkembangan suatu peradaban tergantung dari pendidikan karakter manusia di zaman sebelumnya atau sekarang ini.

Membentuk sebuah karakter tidak semudah membalik telapak tangan atau dilakukan dalam masa yang singkat. Butuh waktu dan proses secara bertahap. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pada masa 'Golden Age' yaitu anak berusia 0-5 tahun, pembelajaran di masa ini memiliki peran sangat penting sebagai pondasi dasar penentu karakter. Selanjutnya usia 6-12 tahun termasuk masa anak masih mudah dalam pembentukan karakternya. Usia 13 tahun ke atas berangsur-angsur seorang anak mulai sulit untuk dibentuk hingga benar-benar dewasa. Istilah Jawa menyebutkan, jika watuk (batuk) itu mudah obatnya tapi kalau watak (karakter) itu susah sembuhnya jika itu sifat buruk.




Wibowo Purno Katoto, seorang sensei dan pimpinan di perguruan karate Goju Ass Gunungkidul mengatakan, "Melalui tehnik-tehnik karate, seorang anak dapat terbentuk rasa percaya dirinya, mampu mengendalikan dan menguasai diri, menjaga sopan santun, muncul semangat juang mengukir prestasi dan seterusnya".

Goju Ass adalah salah satu perguruan karate selain Inkai, Kyokusinkai, Amura dan sebagainya yang berkembang di Gunungkidul sejak tahun 2003. Peran bela diri import dari Jepang ini sudah banyak memberikan bukti kontribusi pembentukan karakter terhadap putra-putri daerah. Tak hanya itu, pencapaian prestasi juga kerap disabet murid-murid Goju Ass ini, baik di tingkat Kabupaten, Provinsi hingga nasional.


Namun ada hal yang dikeluhkan pimpinan perguruan ini, bukan masalah antusias datangnya murid baru atau persoalan lainnya.

"Sayangnya kami belum mempunyai tempat latihan sendiri. Selama ini numpang dan berpindah-pindah dari satu balai Kalurahan ke balai Kalurahan lainnya, selain juga di beberapa sekolah SD, SMP dan SMA. Kami sudah berada di 13 Kecamatan se-Gunungkidul. Untuk peralatan pendukung seperti matras dan atribut bertanding, para orang tua berswadaya. Hanya agak susah jika ke mana-mana menggotong matras dikarenakan belum ada tempat latihan sendiri," jelasnya.




Sudah semestinya bila sebuah lembaga penyumbang pembentuk karakter anak seperti ini mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah daerah. Banyak sekali perguruan bela diri di Gunungkidul yang hanya berjalan seadanya. Begitu pun untuk cabor lainnya. Juga lembaga-lembaga dengan disiplin ilmu yang berbeda, seperti sanggar seni budaya dan lainnya, memegang peranan vital sebagai lembaga non formal namun adaptif dalam penentuan nasib daerah khususnya dan bangsa negara pada umumnya di masa yang akan datang.

Mereka tidak harus menjadi atlet atau seniman di masa dewasanya namun karakter yang telah terbentuk dari pendidikan di lembaga-lembaga non formal adaptif ini akan melengkapi watak dan perilaku dari pembelajaran agama yang didapat sehingga dapat terbentuk insan kamil, manusia Indonesia yang sempurna jiwa raga seutuhnya.

(Red)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar