Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Cermin Kehidupan, Nasib Tragis Ngadiran Berakhir Bahagia



PATUK, (smtourtravel.online) - 
Roda kehidupan selalu berputar. Kadang senang dan kadang susah. Kadang menangis dan kadang juga tertawa. Suatu saat memperoleh kejayaan dan di waktu yang lain mengalami jatuh bagai tak berkesudahan.

Ngadiran adalah sosok sederhana yang berusia kurang lebih 50an tahun. Pada masa mudanya, pria asli asal Beji Patuk Gunungkidul ini berjodoh dengan pujaan hatinya, seseorang yang berasal dari Pati Jawa Tengah. Setelah menikah ia pun pindah dan menetap di Pati dengan istrinya. Seluruh aset yang ia punya di desa asalnya berupa rumah dan sawah pun ia jual habis sebagai modal membuat rumah barunya di tempat asal istrinya tersebut. Dari hasil pernikahan ini ia dianugerahi dua anak, laki-laki dan perempuan.

Singkat cerita, sekitar 14 tahun yang lalu, keluarganya mengalami keretakan, istrinya meninggalkannya dan menikah lagi dengan orang lain. Seluruh aset rumahnya dijual dan sudah habis dibawa istrinya. Anaknya yang satu ikut istrinya dan yang satu lagi ikut simbahnya. Dengan keadaan seperti ini, Ngadiran pun kembali ke tanah asal kelahirannya di Beji Patuk Gunungkidul.




Pulang seorang diri dengan tak membawa apapun, dari kebaikan seorang warga di Padukuhan Gedali Kalurahan Beji Kapanewon Patuk, Ngadiran diijinkan menempati sebuah rumah kayu di tengah persawahan. Namun karena usang, tidak ada biaya dan juga bahan sebagai pengganti tiang-tiang lapuk, tanpa ada hujan dan angin, rumah itu pun akhirnya roboh tanpa ada yang tersisa. Beruntung ia selamat tanpa cidera apapun.

"Mengetahui hal ini kami berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Gunungkidul untuk mengupayakan rekoveri tempat tinggal pak Ngadiran. Namun karena sawah yang ditempati mau dijual maka kami berusaha merelokasikan ke padukuhan tempat asalnya dulu, di Padukuhan Beji. Kami mediasi dengan kakak perempuannya yang masih ada untuk diperbolehkan didirikan bangunan di sebagian kecil tanahnya," ucap Warno, anggota Badan Amil dan Zakat Nasional (BAZNAS).




"Material seperti pasir, batako berasal dari BPBD dan yang lainnya digenapi oleh Baznas, sedangkan untuk tenaga pengerjaanya kami bergotong royong. Warga dari Padukuhan Gedali bergiliran dengan warga Padukuhan Beji," imbuhnya.


Ngadiran sangat bersyukur dan berterima kasih karena orang-orang di sekitarnya sangat peduli padanya. 

"Saya sangat berterima kasih kepada siapa pun. Bukan hanya tenaga tetapi juga rela dan ikhlasnya memberikan bantuan materi. Terutama dari Baznas dan BPBD," ucapnya lantang namun dengan mata berkaca-kaca.

Rasa syukur bahagianya semakin bertambah genap karena ternyata anak perempuannya yang bernama Puput yang sekarang sudah berusia 21 tahun, setelah 14 tahun berpisah berhasil mencarinya dan bertemu sebelum rumahnya roboh beberapa waktu yang lalu. Puput bertekad ingin selalu bersama ayahnya hingga di masa tuanya.

Kembali atas bantuan Warno dan rekan lainnya berhasil mendampingi Ngadiran dan anak perempuannya itu mendapatkan kembali identitas yang sah di Dukcapil Gunungkidul sebagai warga Padukuhan Beji Kalurahan Beji Kapanewon Patuk Gunungkidul.

Sebuah nasib tragis dengan ending yang bahagia akhirnya dialami Ngadiran dan putri tercintanya, memulai hidup baru dengan semangat baru menggapai masa depan yang lebih bahagia. Tentu berkat Tuhan Yang Maha Welas Asih melalui seluruh orang-orang baik dan warga sekitar yang dengan ikhlas membantu. Hingga berita ini diturunkan, proses pengerjaan pembangunan tempat tinggal Ngadiran masih berlangsung.




(Abyan)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar