Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Bernostalgia Bareng Dagadu Djokdja



(smtourtravel.online) - Bagi sebagian besar anak muda era 90an yang tinggal di Jogja tentu tidak asing dengan nama Dagadu. Jangankan anak muda 90an, anak muda milenials yang kekinian pun saya yakin sangat familiar dengan nama Dagadu. Dagadu merupakan brand lokal asal Kota Yogyakarta yang didirikan pada tahun 1994 oleh sekumpulan mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada. Berbeda dengan beberapa brand kaos lain, Dagadu mengusung tema seputar Jogja. Tema tersebut mencakup guyonan masyarakat Jogja, romantisme Jogja, kekayaan budaya Jogja, hingga kritik sosial terhadap Kota Jogja. Design-design kaos Dagadu yang memproyeksikan Jogja tersebut dikemas dalam gambar-gambar yang estetik serta perpaduan warna yang ramai, khas trend 90an. Namun seiring dengan perkembangan zaman, design-design Dagadu mulai bertransformasi menjadi lebih kalem dan modern. Bagi anda yang masih penasaran, berikut beberapa hal menarik seputar Dagadu Djokdja.



Sejarah Dagadu dan Asal Mula Nama Dagadu
Dagadu Djokdja didirikan pada tanggal 9 Januari 1994. Pendirian Dagadu diprakarsai oleh 25 orang mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada, salah satunya adalah A. Noor Arief. Latar belakang pendirian Dagadu Djokdja sendiri berangkat dari ketertarikan mereka yang sama seputar kebudayaan perkotaan dan pariwisata Jogja. Pada awalnya Dagadu Djokdja mulai membuka lapak jualan di Lower Ground Malioboro Mall. Sasaran penjualan mereka awalnya adalah mahasiswa serta anak-anak muda. Hal tersebut tidak terlepas dari merebaknya budaya pop di era 90an. Namun seiring berjalannya waktu, produk Dagadu Djokdja (yang mayoritas adalah kaos) mulai dinikmati sejumlah kalangan, dari orang dewasa hingga anak-anak. Nama Dagadu sendiri dipilih karena memiliki makna yang sangat filosofis. Dagadu berarti Matamu. Asal dari nama Dagadu yang berarti Matamu adalah diambil dari bahasa walikan aksara Jawa atau bahasa slang masyarakat Jogja. DA merupakan kata pada baris kedua aksara Jawa, sedangkan MA merupakan kata pada baris keempat aksara Jawa. Ga merupakan kata pada baris keempat aksara Jawa, sedangkan TA merupakan kata pada baris kedua aksara Jawa. Apabila kata tersebut saling dibalik Da=Ma, Ga=Ta, dan Du=Mu. Permainan kata tersebut menjadi salah satu budaya populer masyarakat Jogja di era dulu. Kata Matamu sendiri sebenarnya bukan hanya sekadar kebalikan dari nomenklatur Dagadu. Matamu memiliki makna citra kreatifitas dalam setiap produk Dagadu. Hal tersebut tidaklah berlebihan, mengingat design-design grafis di setiap produk Dagadu memang benar-benar mampu memanjakan mata kita.


Gerai-Gerai Dagadu Seiring berjalannya waktu, gerai Dagadu Djokdja tidak hanya terdapat di Lower Ground Malioboro Mall. Hingga kini Dagadu tercatat memiliki 5 gerai yang bisa anda kunjungi setiap saat. Pertama, Gerai Yogyatourium. Gerai Yogyatourium terletak di Jalan Gedongkuning No. 128, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Gerai Yogyatourium sendiri merupakan gerai terbesar Dagadu. Hal tersebut dibuktikan dengan luas serta jumlah stock produk Dagadu yang terdapat di gerai. Selain sebagai tempat penjualan kaos dan produk-produk Dagadu lain, terdapat kedai di Yogyatourium. Kedai tersebut bernama Kolega, yang juga masih satu naungan dibawah PT. Aseli Dagadu Djokdja. Dari segi interior dan menu, Kolega terbilang sangat cocok untuk kalian yang berjiwa muda serta hobi nongki bersama kawan-kawan. Selain Kedai Kolega, terdapat pendopo Yogyatourium yang biasanya digunakan untuk berbagai macam event seperti diskusi, workshop, kelas pelatihan, dan sebagainya. Pendopo Yogyatourium ini juga bisa dinikmati untuk umum asal ijin terlebih dahulu dengan pengelola Yogyatourium. Kedua, Gerai Soboharsono. Gerai Soboharsono terletak di Jalan Pekapalan, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta. Gerai ini terlatak di sebelah Jogja Gallery. Gerai Soboharsono merupakam gerai terbesar kedua setelah Yogyatorium. Gerai tersebut biasanya ramai ketika hari libur atau malam hari. Hal tersebut tidak terlepas dari turis, baik dalam negeri maupun mancanegara, yang sedang berjalan-jalan di sekitar Malioboro atau Alun-Alun Utara. Ketiga, Pos Pelayanan Dagadu. Pos Pelayanan Dagadu atau yang lebih sering disebut Posyandu terletak di Lower Groun Malioboro Mall. Gerai Posyandu juga berdekatan dengan gerai Minisho dan Gramedia. Gerai ini merupakan tempat pertama Dagadu dalam berjualan secara menetap. Keempat, Gerai Tugu. Gerai Tugu terletak di Jalan P. Mangkubumi No. 26, Gowongan, Jetis, Yogyakarta. Gerai Tugu mulai resmi beroperasi pada tahun 2019. Gerai Tugu sendiri terdiri dari 2 Lantai. Selain itu, di gerai Tugu juga terdapat Kedai Kolega yang siap menemani waktu bersantai anda di Tugu Jogja. Kelima, Dagadu Heha Sky View. Dagadu Heha merupakan outlet terbaru dari Dagadu. Outlet ini baru mulai beroperasi tahun 2020. Selain bisa menghabiskan waktu dengan melihat-lihat produk Dagadu, di sini tentu anda juga bisa nongki bersama keluarga dan kerabat dekat di Heha Sky View.




Sister Brand Dagadu Dagadu tercatat mempunyai 4 Sister Brand yakni Dagadu, DGD, Malioboro Man, dan Hiruk Pikuk. Keempat sister brand tersebut mempunyai keunikan serta ciri khasnya masing-masing. Pertama, Dagadu. Untuk brand Dagadu menitikberatkan pada design seputar khazanah Jogja. Mulai dari budaya, gojegan hingga keunikan seputar Jogja. Brand ini memiliki tagline “Smart, Smile and Djokdja”. Kaos brand Dagadu sendiri dibandrol seharga Rp. 120.000,00. Kedua, DGD. Berbeda dengan brand Dagadu, DGD menitikberatkan pada khazanah seputar nusantara. Jadi tema-tema didesign DGD biasanya berupa kekayaan budaya, alam, flora dan fauna di seluruh nusantara. Brand ini memiliki tagline, “Kenali Cintai Indonesia”. Kaos brand DGD sendiri dibandrol seharga Rp. 189.000,00. Ketiga, Malioboro Man. Malioboro Man merupakan brand yang menitikberatkan pada design superhero khas Dagadu yang bernama Malioboro Man. Design ini terbilang cukup unik, lugu, dan bahkan elegan. Brand ini memiliki tagline “Super Hello Supel Power”. Kaos Malioboro Man dibandrol seharga Rp. 125.00 Keempat, Hiruk Pikuk. Hiruk Pikuk merupakan brand yang menitikberatkan pada artistik tulisan Jogja. Brand ini memiliki tagline “Cinderamata Berwisatamu”. Kaos Hiruk Pikuk dibandrol seharga Rp. 68.000,00. Dagadu dan Budaya Pop 90an Berbicara tentang era 90an kita akan dihadapkan dengan derasnya arus budaya pop di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Di Indonesia, budaya pop 90an ditandai dengan pergerseran selera dalam berbicara, hiburan, hingga busana. Hal tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi serta peran media. Kita tentu akan teringat band Potret, Pas Band, Dewa 19, Elemen, Padi dst apabila berbicara tentang musik. Mariobross, Tetris, Wining Eleven, Crash Team Racing, dan Tekken 3 apabila berbicara tentang game. Petualangan Sherina, Kuch-Kuch Hotahai, Home Alone dst apabila berbicara tentang film. Hal tersebut merupakan produk budaya 90an yang tentunya bakal terus membekas dalam ingatan kolektif kita semua. Dan dalam hal berbusana, Dagadu berperan di dalamnya. Design-Design Dagadu Djokdja, khususnya design-design lawas, memproyeksikan budaya pop era 90an. Bahkam meski kita sudah hidup di era kini, design-design Dagadu seperti tidak terpengaruh digerus oleh zaman yang terus melaju. Hal tersebut yang membuat sebagian besar anak-anak muda era 90an serasa bernostalgia apabila berkunjung dan membeli produk-produk Dagadu Djokdja.





(Ruby)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar