Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Api Berkobar Hebat Di Hutan Sawar, Tepian Pantai Miniatur Bali



SAPTOSARI, (smtourtravel.online) - 
Jarang sekali seorang wisatawan mengetahui sejarah dari terbentuknya sebuah destinasi wisata. Sebut saja lokasi ini adalah pantai 'Ngobaran'. Salah satu pantai miniatur Bali di Gunungkidul yang eksotis. Bukan saja dari pemandangan alam yang dikelilingi dinding batuan karst dengan hamparan pasir putihnya. Namun juga kental dengan nilai spiritual dan religinya.

Tak hanya sekali dua kali pantai ini dan puluhan pantai lainnya di Gunungkidul diekspos di berbagai media masa. Memang tak akan pernah bosan ketika mengeksplor apapun yang menjadi kekayaan potensi wisata dan budaya di Gunungkidul. Kali ini Smart News akan sedikit lebih menyoroti latar belakang terbentuknya pantai ini dari sisi budaya dan spiritual.
 

logo Smart Ads camp ads rajawali elt ads smart biz nabung coin


Pantai Ngobaran adalah salah satu pantai di Gunungkidul yang memiliki sejarah yang sangat kuat. Sebelum bernama Ngobaran, pantai ini bernama alas 'Sawar'. Pada tahun 1400an, di masa akhir keruntuhan kerajaan Majapahit, sinuwun Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabumi) ketika dalam pelariannya bersama permaisuri yang bernama Dewi Amarawati (putri Champa/Cempo) dan anjing kesayangannya si belang yuyang, pasukan putranya yang bernama Raden Patah (Raja Demak) sampailah juga ke tempat ini. Maksud hati Raden Patah hendak membujuk orang tuanya agar masuk Islam namun sang Prabu belum berkehendak. Untuk menghalangi datangnya pasukan tersebut maka sinuwun Prabu memerintahkan prajuritnya untuk membakar hutan Sawar ini hingga api berkobar-kobar hebat. Sebab itulah pantai ini kemudian dikenal dengan nama pantai Ngobaran.

Sebagai pertanda dari terjadinya peristiwa ini kemudian dibuatlah tetenger di pesisir pantai berupa sebuah bangunan kecil menyerupai candi.





Seiring berjalannya waktu, lambat laun lokasi ini sering digunakan sebagai wisata spiritual. Pengunjung dari berbagai latar belakang banyak yang melakukan tetirah. Tak hanya para pelaku kebatinan dan kejawen, umat Budha dan Hindu pun sangat sering melakukan peribadatan di sini. Hingga akhirnya mulai bermunculanlah bangunan-bangunan candi yang berbentuk Pura untuk tempat ibadah umat Hindu yang kemudian diberi nama Pura 'Segara Wukir'. Juga candi yang memiliki stupa sebagai tempat ibadah umat Budha. Masjid yang megah pun akhirnya didirikan pula di lokasi wisata ini. Para penganut kepercayaan dan kejawen biasanya bersemedi di candi 'Moyodipo'.

Semua tempat ibadah ini menyatu dalam satu kompleks pantai Ngobaran. Menurut keterangan juru kunci, justru ke depan sudah ada wacana untuk dibangun satu tempat peribadatan lagi, yaitu gereja.

"Pantai Ngobaran ini akan dijadikan menjadi sebuah tempat keberagaman dan toleransi antar umat beragama," jelas Surakso Kadar, juru kunci pantai Ngobaran.


Pantai Ngobaran ini menjadi salah satu tujuan wisata pantai yang termasuk paling ramai dikunjungi. Terutama ketika ada acara-acara ibadah sesuai hari besar masing-masing agama. Pada saat Melasti misalnya, hari besar umat Hindu, tak hanya pengunjung yang berasal dari pulau Jawa saja, melainkan dari pulau Bali pun berjubel. Kenapa warga Bali malah pada datang ke sini padahal di Bali sudah banyak Pura? Jawaban menurut sang juru kunci dikarenakan masyarakat Bali sangat percaya bahwa penganut Hindu yang tertua dan penyebaran agamanya berasal dari Jawa. Dan sejarah di Ngobaran ini adalah salah satunya.

Begitu pun acara-acara adat masyarakat sekitar seperti nyadran, suran (1 Syuro) dan sebagainya. Sangat menyita tempat karena padatnya pengunjung ketika acara-acara ini berlangsung. Nah bagi traveler yang justru ingin menghindari berjubelnya pengunjung sebaiknya datang ketika hari-hari biasa agar lebih bisa maksimal dan puas menikmati keindahan dan eksotisme pantai Ngobaran.




(GalineAs)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar