Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Anak-anak Pejuang Signal Demi KBM Dan Masa Depan Bangsa Tak Terhiraukan



RONGKOP, (smtourtravel.online) - 
4 Desember 2020, pandemi covid-19 yang turut melanda bangsa Indonesia selama kurang lebih satu tahun telah membawa dampak krusial baik langsung maupun tak langsung. Pemerintah telah berupaya menanggulangi secara preventif, kuratif dan rehabilitatif terhadap seluruh rentetan efek yang terjadi. Tentu dalam pelaksanaan program yang terjabarkan dalam agenda-agenda secara rinci membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Hampir seluruh sektor pada anggaran APBN, APBD I, APBD II hingga APBDES pemerintahan tingkat terendah pun mengalami pemotongan anggaran untuk dialokasikan pada program tersebut. Hal ini terbukti dalam satu tahun berjalan ini, APBDES perubahan yang biasa dilakukan hanya sekali mendekati akhir tahun tutup buku, kali ini diperbolehkan terjadi hingga empat kali.

Dampak global wabah ini juga signifikan terjadi di bidang pendidikan. Anak-anak sekolah diharuskan belajar di rumah. Kegiatan belajar mengajar antara guru dan murid dilakukan secara daring. Begitupun ketika mengerjakan ujian. Seperti Penilaian Akhir Semester (PAS) di tahun ini.

Sistem KBM seperti ini memunculkan permasalahan yang entah tidak bisa diatasi seratus persen atau memang tidak terpikirkan oleh kementrian atau dinas terkait untuk siswa-siswi yang berdomisili di pedesaan, pegunungan maupun blank spot. Anak-anak kurang mampu harus minimal memiliki HP Android untuk mengakses pelajaran yang hingga kini tidak ada alokasi untuk pengadaannya, bila sudah punya pun masih memerlukan kuota data, di mana ketika metode daring menggunakan vidio call atau harus menganalisa sebuah pembelajaran dari vidio, memerlukan kuota yang tidak sedikit. Memang sempat beberapa kali sekolah memberikan bantuan kuota data untuk itu. Namun jika sudah habis maka masalahnya kembali berulang.




Lebih parahnya adalah seperti yang terjadi di Kalurahan Botodayakan, Kapanewon Rongkop Gunungkidul, di Padukuhan Cabe, Goakarang, Goakembang dan seterusnya ke selatan di hampir sebagian besar wilayah pesisir pantai. Gunungkidul yang memilki geografis sebagai pegunungan seribu, anak-anak harus naik perbukitan untuk berjuang berburu layanan operator, kadang tanpa memikirkan keselamatan jiwa mereka demi satu atau dua bar sinyal.

"Jangankan sinyal android yang apa itu..3G, 4G. Wong untuk telpon hp biasa aja ndlap ndlup (naik turun)," kata salah seorang warga Cabe yang tidak mau disebut namanya.


Keadaan ini harus terjadi setiap hari selama pembelajaran daring dilakukan. Mereka berkelompok mencari spot area sinyal berada. Yang nekad sendirian pun ada. Mereka tetap ingin bersekolah apapun yang terjadi demi masa depan. Namun begitu, tetap saja mereka masih anak-anak yang membutuhkan bantuan orang-orang yang memiliki kekuatan dan wewenang.

"Kami memohon melalui dinas pendidikan untuk dicarikan jalan keluar agar daerah kami dapat dengan mudah mendapatkan sinyal operator seperti teman-teman di kota," keluh salah seorang siswi SMK N3 Wonosari yang rumahnya di Cabe.

"Kami ingin belajar dengan lancar seperti teman-teman kami lainnya, apalagi sekarang ini kami sedang ujian," imbuhnya.

Sebagian besar anak-anak yang ditemui tim reportase pada hari ini adalah  murid-murid SMP N2 Rongkop. Dengan malu-malu mereka juga menyatakan hal yang sama seperti kakak kelasnya tersebut agar pemerintah mengusahakan solusi secepatnya. Kapan pandemi covid ini berakhir? Tidak ada seorang pun yang tahu secara pasti.




(AbYan)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar