Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Sekolah Lagi atau Sekolah Menulari?



GUNUNGKIDUL, (smtourtravel.online) - Sudah hampir akhir tahun sejak mencuatnya covid-19 di Indonesia pada Februari lalu. Covid-19 ini menyebabkan perubahan di Indonesia, mulai dari gaya hidup, perekonomian, hingga proses pendidikan. Penggunaan masker, jaga jarak, dan mencuci tangan menjadi gaya hidup baru. Perekonomian didominasi olah perekonomian era digital, serba online. Proses pendidikan yang mulanya dilakukan di sekolah pun sekarang diganti dengan sekolah dari rumah. 

Sekolah dari rumah yang sudah dilakukan sejak 13 April 2020. Ini berarti sudah 7 bulan siswa belajar dari rumah. Kegiatan belajar dari rumah yang cukup lama tersebut tentu akan menyebabkan kejenuhan bagi siswa. Belajar sendiri bukan tidak mungkin menambah kesulitan pemahaman siswa karena tidak adanya mentor dan teman belajar secara langsung. Oleh karena itu orang tua diharuskan memerankan posisi teman dan mentor belajar bagi siswa. 




Di daerah Gunungkidul sendiri, belajar dari rumah menimbulkan banyak polemik. Pertama, dari segi fasilitas seperti HP yang mana tidak semua orang memiliki smartphone. Meskipun, keadaan ini cukup jarang ditemui. Kedua adalah ketersedian waktu orang tua untuk menemani belajar. Orang tua di Gunungkidul yang umumnya berprofesi sebagai petani dan buruh harian tidak memiliki banyak waktu untuk mengajari anak mereka. Ketiga adalah proses belajar yang tidak maksimal. Orang tua belum tentu mampu mengajari anak mereka. Hal ini menyebabkan siswa tidak bisa atau siswa hanya mencari jawabannya dengan bantuan mbah google.

Keadaan ini membuat masyarakat serta sekolah – sekolah di Gunungkidul resah. Desakan untuk memulai sekolah kembali diusahakan oleh berbagai pihak, utamanya wali murid dan sekolah itu sendiri. Bahkan beberapa sekolah sudah mengumpulkan tanda tangan wali di atas materai untuk menyetujui kembalinya siswa bersekolah. Akhir Desember 2020 yang menjadi TBA program sekolah dari rumah, sangat ditunggu. Januari 2021 diharapkan siswa dapat masuk sekolah lagi meskipun pandemi covid 19 belum menemukan titik terang.  


Kembalinya siswa untuk bersekolah diharapkan mampu mengembalikan pendidikan pada keseharusan. Namun hal ini tidak bisa kita lakukan secara grusa – grusu (terburu - buru) mengingat pada November ini terjadi penularan covid 19 dari seorang guru ke dua orang siswanya di daerah Patuk. Kembalinya siswa masuk sekolah jangan sampai menjadikan sekolah sebagai tempat munculnya klaster baru di Gunungkidul dan menyebabkan perluasan pandemi. Oleh karena itu persiapan matang dari sekolah dan pembekalan masyarakat sekolah akan kesadaran hidup sehat harus direncanakan dan segera dilaksanakan. 


(Adit Saputra)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar