Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Moses Gathotkaca dan Malapetaka 1998




Wonosari, (smtourtravel.online) -
Reformasi 1998 di Indonesia disebabkan oleh krisis multidimensi. Krisis tersebut meliputi krisis politik, krisis sosial, hingga krisis kepemimpinan nasional selama masa pemerintahan Soeharto/Orde Baru. Hal tersebut semakin diperparah dengan krisis moneter di Asia yang berimbas terhadap perekonomian Indonesia.
Reformasi 1998 setidaknya telah menghasilkan 6 agenda utama yang diperjuangkan oleh gerakan mahasiswa. Agenda tersebut meliputi: (1) adili Soeharto dan kroni-kroninya, (2) amandemen UUD 1945, (3) penghapusan dwi fungsi ABRI, (4) otonomi daerah seluas-luasnya, (5) penegakan supremasi hukum, dan (6) penghapusan sistem KKN.
Upaya mewujudkan 6 agenda utama reformasi tersebut harus melewati berbagai macam ritangan, dan harga yang dibayar untuk mewujudkan demokratisasi di republik sangatlah mahal. Hal tersebut terlihat dari bentrokan serta ketegangan yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Solo, Surabaya, Medan, Makasar, dan Yogyakarta. 
 




Kerusuhan di beberapa kota besar tersebut telah merusak beberapa bangunan serta fasilitas umum. Di Jakarta, Yogya Plaza serta beberapa bangunan di daerah Glodok hangus terbakar akibat kerusuhan 1998.
Bentrokan antara aparat dengan mahasiswa juga menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Pada tanggal 12 Mei 1998, empat mahasiswa Trisakti meninggal akibat bentrokan dengan aparat. Kejadian tersebut memantik aksi unjuk rasa semakin besar pada tanggal 13-14 Mei 1998.  
 Namun, beberapa hari sebelum pecah aksi unjuk rasa di Jakarta, telah terjadi aksi unjuk rasa yang diprakarsai oleh gerakan mahasiswa di Yogyakarta. Aksi tersebut terjadi pada 5 Mei 1998.
Aksi Reformasi di Yogyakarta telah berlangsung sejak tahun 1994-1998. Pada tanggal 8 Maret 1998, setelah ditetapkannya Soeharto menjadi Presiden RI untuk ke-7 kalinya, sekitar 25.000 mahasiswa yang berkumpul di Gedung Pusat UGM melakukan aksi penolakan pelantikan Presiden Soeharto dan membakar patung Presiden Soeharto. 
Puncak aksi reformasi di Yogyakarta terjadi pada tanggal 5 Mei 1998. Pusat aksi reformasi di Yogyakarta berlangsung di sekitaran jalan Gejayan. Selain di Gejayan, aksi-aksi gerakan mahasiswa juga terjadi di sejumlah titik seperti Bunderan UGM, Tugu Yogya, hingga sekitar jalan Solo.
 



Aksi mahasiswa Yogya yang terjadi di awal-awal Mei dipelopori oleh SOMASI (Solidaritas Mahasiswa untuk Reformasi). Mereka memulai aksinya di depan Universitas Sanatha Dharma.
Aksi Gejayan selanjutnya mencapai puncaknya pada tanggal 8 Mei 1998. Pada tanggal 8 Mei 1998, tepatnya pada sore hari, ribuan mahasiswa UGM mengadakan unjuk rasa di depan gerbang kampus dan sekitaran bunderan UGM.
Sedangkan di lokasi lain, ribuan mahasiswa Universitas Sanatha Dharma serta IKIP Karangmalang juga menggelar unjuk rasa. Aksi tersebut selanjutnya pecah menjadi bentrokan antara mahasiswa dengan aparat. Dalam bentrokan tersebut, Moses Gathotkaca tewas terbunuh.
Moses Gathotkaca lahir di Banjarmasin pada tahun 1958. Moses merupakan mahasiswa IST Akprind Yogyakarta tahun 1970an dan melanjutkan studi di Universitas Sanata Dharma tahun 1990an. 

Menurut Lukianto Damar (salah satu sahabat Moses), semasa duduk di bangku perkuliahan, Moses aktif dalam kegiatan pecinta alam serta klub-klub diskusi di kampus.  Selain menyukai kegiatan outdoor, Moses juga memiliki ketertarikan terhadap dunia teater. Hal tersebut dibuktikan dengan aksi panggungnya di beberapa kesempatan.

Pada saat peristiwa Gejayan mencapai puncak ketegangannya pada tanggal 8 Mei 1998, Moses bersama empat rekannya sedang makan di sebuah warung nasi goreng di sekitar jalan Colombo. Setelah selesai mengisi perut, Moses bersama empat rekannya bergegas kembali ke rumah. Namun baru beberapa meter keluar dari warung makan, kondisi sekitar jalan tiba-tiba ramai oleh ribuan mahasiswa yang berlarian dari kejaran aparat.
Kondisi sekitar jalan tersebut seketika crowded. Moses bersama empat rekannya, salah satunya bernama Sonni selanjutnya ikut membaur dalam kerumunan masa. Sonni menceritakan bahwa ketika situasi crowded ia terpisah dengan Moses. Keesokan harinya Moses selanjutnya ditemukan oleh beberapa mahasiswa Universitas Sanatha Dharma di sekitar hotel Radisson.


Ketika ditemukan Moses masih dalam keadaan hidup namun dengan luka parah di bagian kepala dan di bagian hidung serta telinga darah masih becucuran. Moses diduga dianiaya oleh oknum aparat dengan benda tumpul. Ketika hendak dilarikan ke rumah sakit, Moses meninggal dunia.

Meninggalnya Moses Gatotkaca telah memicu kemarahan massa. Hal tersebut terbukti dengan aksi unjuk rasa di hari-hari selanjutnya dan mencapai puncaknya pada Pisowanan Ageng tanggal 20 Mei 1998. Untuk mengenang Moses Gatotkaca, Munief Laredo menciptakan sebuah puisi yang berjudul “Sajak Akhir Buat Moses Gatotkaca”. 
Nama Moses Gathotkaca sendiri selanjutnya dijadikan nama jalan di sekitaran kampus Universitas Sanatha Dharma. Jalan Moses Gathotkaca, sebagai ruang publik, menjadi saksi bisu dari sebuah gerakan yang memperjuangkan tegaknya nilai-nilai demokrasi menjelang abad ke-21. 
Nama Moses Gathotkaca sendiri telah menjadi bagian integral dalam gerakan mahasiswa Yogya yang menuntut adanya reformasi. Masih banyak Moses-Moses lain yang ada di Yogya, Jakarta, Surakarta, dan seluruh Indonesia yang hingga kini kasusnya masih belum mencapai titik terang.

Sumber:
https://youtu.be/427mfpPytDE. Diakses pada Senin 16 November 2020
Wawancara dengan Bapak Lukianto Dhamar selaku kerabat alm. Moses Gathotkaca
Wawancara dengan Bapak Sonni selaku kerabat alm. Moses Gathotkaca.



 
 

(Ruby)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar