Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Ki Ageng Wonokusumo, Pendakwah Agama Islam Di Gunungkidul Yang Bergelar Ki Ageng Giring IV



KARANGMOJO, (smtourtravel.online) - Di 
Jl. Kembangsari No.17, Padukuhan Wonontoro, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, terdapat makam Ki Ageng Giring IV atau sering disebut Ki Ageng Wonokusumo. Lokasi makam Ki Ageng Wonokusumo berada di lokasi yang tinggi, di sekitarnya juga digunakan pemakaman umum. Namun, warga sekitar tidak berani memakamkan warga biasa berada lebih tinggi dari makam Ki Ageng Wonokusumo atau di belakannya. 
Beliau merupakan anak dari Ki Ageng Giring III, sekaligus adik dari Roro Lembayung garwa Panembahan Senopati. Setelah besar tinggal di Desa Gedangrejo Karangmojo.

Konon diceritakan, dari Gedangsari Ki Ageng Wonokusumo hendak berkontak batin dengan Ayahnya yaitu Ki Ageng Giring III dan juga saudaranya Ki Ageng Pandanaran ( Sunan Bayat ). Namun kumandang adzan yang dilakukan tidak pernah terdengar baik dari wilayah Giring, Sodo Paliyan, maupun dari Bayat Klaten. Akhirnya, Wonokusumo mencari tempat yang tinggi di Bukit Wonontoro, Jatiayu.

Dari situlah kumandang adzan terdengar sampai Giring tempat ayahnya, serta sampai ke tempat Sunan Pandanarang di Bayat. Bahkan, upaya berhubungan jarak jauh ketiganya melalui kebatinan bisa dilakukan dari puncak bukit tersebut.





Menurut juru kunci Makam Ki Ageng Wonokusumo, Mas Bekel Surakso Daryanto, cerita mengenai Ki Ageng Wonokusumo didengarnya dari leluhur secara turun-temurun.

Dia menjelaskan bahwa Ki Ageng Wonokusumo adalah sosok penyebar agama Islam di tanah Gunungkidul, mengikuti jejak Ayahnya. Beliau juga memiliki santri yang tidak sedikit, hingga dapat membentuk kekuatan militer untuk mengalahkan belanda.

Santri dan sahabat Ki Ageng Wonokusumo selalu bisa mengelabuhi Belanda. Hingga akhirnya pada suatu saat terjepit, para santri dan sahabat mengatakan bahwa Ki Ageng Wonokusumo telah meninggal dunia.

Sebagai bukti, mereka membuat upacara selamatan di bulan Jumadil Akhir agar Belanda percaya. Hingga kini, peringatan itu menjadi sebuah upacara adat tradisi dan juga nadzar warga. Upacara ini sering dihadiri peziarah luar kota. Seperti petilasan atau makam yang disakralkan pada umumnya, setiap malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon makam Ki Ageng Wonokusumo dikunjungi banyak peziarah. 


"Banyak sekali peziarah yang datang untuk berdoa dan bermunajad di sini. Ada yang dari Papua, Jawa Tengah dan sekitaran Jogja," terang Daryanto.

Memang terbukti bahwa wilayah Gunungkidul banyak menyimpan sejarah besar, baik dari penyebaran agama Islam hingga pemunculan sosok - sosok hebat yang pernah tinggal atau sekedar bertapa dan laku prihatin di Gunungkidul.




Mencintai leluhur, budaya, sejarah di sekitar dan tanah tempat bumi berpijak adalah salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, bentuk pelestarian dan pemunculan local wisdom sebagai identitas kedaerahan dan bangsa. Mari belajar dari sejarah atau sejarah yang akan mengajari kita kembali.

(GalineAs)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar