Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Gorengan Mbok Nen Melintas Zaman



WONOSARI, (smtourtravel.online) - Gorengan merupakan kudapan populer masyarakat Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari prinsip kuliner egaliter yang menjadi ciri utama gorengan. Prinsip kuliner egaliter sendiri tercermin ketika sebuah hidangan atau camilan mampu dinikmati oleh semua kalangan, tanpa terkecuali. Baik masyarakat kota maupun masyarakat desa saya yakin pernah mencicipi gorengan, meski hanya dijadikan sebuah camilan. Gorengan di sejumlah tempat di Indonesia memiliki varian yang beragam sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing. Tapi, setidaknya terdapat 3 jenis gorengan yang populer di seluruh Indonesia, yakni tempe mendoan, tahu susur, dan bakwan.

Gorengan pun dijajakan di sejumlah tempat, mulai dari pasar hingga pinggir-pinggir jalan. Di Yogyakarta, khususnya di Gunungkidul, gorengan sudah menjadi menu utama dalam budaya kuliner masyarakat. Rasanya kurang lengkap apabila dalam sehari kita tidak menyantap gorengan, baik sebagai lauk untuk nasi maupun kudapan ringan ketika “jagongan”.





Di Gunungkidul kita bisa memperoleh gorengan di banyak tempat, mulai dari pasar, jajanan pinggir jalan, hingga angkringan. Namun, terdapat satu tempat penjual gorengan yang terbilang cukup menarik dan wajib untuk dicoba. Tempat tersebut adalah Gorengan Mbok Nen.

Gorengan Mbok Nen terletak di Padukuhan Madusari RT 07, Kalurahan Wonosari, Kapanewon Wonosari. Untuk sampai ke lokasi hanya memakan waktu sekitar 5 menit dari Alun-Alun Wonosari. Gorengan Mbok Nen sendiri didirikan oleh pasangan suami istri, Wito Winoto Senen dan Yuyem, sejak tahun 1970an. Berikut ini beberapa hal menarik seputar Gorengan Mbok Nen.


Tempat Jualan di Pawon Rumah  

Persaingan pasar di era modern saat ini menuntut kita untuk tepat dalam memilih lokasi berjualan. Banyak pedagang atau penjual yang acap kali harus berpindah tempat atau ruko (nomaden) untuk memperoleh konsumen. Tetapi nampaknya hal tersebut tidak berpengaruh bagi Gorengan Mbok Nen. Bahkan, lokasi jualan Gorengan Mbok Nen sendiri terbilang cukup unik yakni di dapur atau pawon rumahnya sendiri. Menurut Mbok Nen (Yuyem), alasan kenapa ia dan suaminya dulu memilih tempat berjualan di dapur karena biar praktis. Sebelumnya, Mbok Nen juga sempat berjualan nasi gudangan dan gorengan secara keliling.


Meracik Sendiri Sambal Bawang Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, rasanya kurang lengkap apabila kita menyantap sebuah makanan tanpa ditemani sambal. Hal tersebut juga berlaku bagi konsumen atau penikmat Gorengan Mbok Nen. Namun, berbeda dengan sebagian besar penjual gorengan yang biasanya telah menyediakan sambal dengan sentuhan sang penjual, di tempat Gorengan Mbok Nen kita dibebaskan untuk meracik sendiri sambal bawang. Ulegan, cabai, garam dan bawang pun telah disediakan di dalam dapur Gorengan Mbok Nen. Menurut Mbok Nen, alasan kenapa ia membebaskan para pembeli untuk meracik sendiri sambal bawang mereka agar mereka bisa menentukan tingkat kepedasan dan kegurihan sambal sesuai dengan selera masing-masing.

Namun bagi mereka yang kurang terbiasa atau jarang “nyambel” sendiri, Mbok Nen akan membantu membuatkan sambal bawang sesuai dengan keinginan pembeli.






Masih Menggunakan Kayu Sebagai Bahan Bakar Di tengah laju perkembangan teknologi rutinitas manusia pun mulai terganti. Begitupula dengan bidang kuliner. Apabila pada zaman dulu manusia memasak masih menggunakan kayu bakar atau arang, hal tersebut kini telah tergantikan dengan kompor gas dan listrik. Namun, Gorengan Mbok Nen tetap mempertahankan tradisi memasak dengan kayu bakar. Alasan Mbok Nen masih tetap menggunakan kayu bakar karena sudah menjadi kebiasaan sejak dahulu. Apabila kita telah lebih jauh ternyata memasak menggunakan kayu bakar mempunyai beberapa keunggulan, salah satunya berkaitan dengan tingkat kematangan masakan.

Memasak menggunakan kayu bakar membuat tingkat kematangan menjadi lebih sempurna meski durasi waktu yang diperlukan lebih lama ketimbang menggunakan kompor gas atau listrik. Selain itu memasak menggunakan kayu bakar atau arang juga mempengaruhi aroma dari masakan itu sendiri. Tapi bagaimanapun, apapun bahan yang digunakan untuk memanaskan masakan, itu kembali lagi pada resep serta penyajian si pemasak. Bagaimanapun Gorengan Mbok Nen merupakan representasi dari budaya kuliner tradisional yang masih tetap bertahan di tengah arus perkembangan zaman. Nilai-nilai kearifan lokal dari budaya kuliner masyarakat perlu kita jaga untuk generasi yang akan datang. Kuliner, dalam hal ini gorengan, bukan sekadar pemuas perut yang tengah kelaparan. Lebih dari itu, proses pembuatan gorengan, praktik penjualan gorengan serta tradisi budaya kuliner tradisional adalah bagian integral dalam kekayaan tradisi masyarakat nusantara.

(Ivan)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar