Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Dewi Nawang Wulan : Legenda atau Mitos?

Ilustrasi


PALIYAN, (smtourtravel.online) - 
Kalurahan Giring, Kapanewon Paliyan terdapat hutan dan gundukan bukit-bukit kecil yang menjadi bagian penghias pemandangan taman raya alam Gunungkidul yang eksotis. Di sini terdapat rumah kecil di atas bukit dan di dalamnya terdapat 3 makam tokoh sejarah yang sangat legendaris. Jaka Tarub, Bondan Kejawen dan Dewi Nawangsih dan ada satu sosok yang tidak ada tanda makamnya di situ, yaitu Dewi Nawang Wulan istri Sang Legenda, Jaka Tarub. Kenapa makamnya tidak ada?

Kali ini kita akan sedikit mengupas tentang siapa sih sosok sebenarnya Dewi Nawang Wulan. Benarkah dia Bidadari Surga yang turun dari Kayangan? Seperti cerita-cerita yang sering kita dengar di masyarakat. 

Nawang Wulan adalah Nama yang diberikan Jaka Tarub setelah menikah dengannya. Nawang Wulan berarti 'Menatap Rembulan' dalam bahasa Jawa, yang menggambarkan kecantikannya seakan menatap Bulan. Nama Asli Dewi Nawang Wulan adalah Rara Purwaci, anak Seorang Resi yang berasal dari Parahyangan (Sunda). Legenda ini diungkap oleh sejarawan asal Malang, Damar Shashangka.

Beliau menerangkan bahwa di Parahyangan ada 3 Brahmana ternama yaitu Danghyang Ragasuci, Danghyang Langlangwisesa dan Danghyang Wulungan.

Putri Danghyang Ragasuci bernama Rara Purwaci dan Rara Asri, sedangkan putri Danghyang Langlangwisesa adalah Rara Kancana dan Rara Manik. Sementara putri Danghyang Wulungan adalah Rara Cinde, Rasati dan Rara Sindhang.

Mereka semua mengaku memiliki ibu yang berasal dari Jawa. Dengan demikian, ketujuh perempuan cantik yang awalnya dikira bidadari kahyangan yang turun dari langit ke bumi itu adalah wanita keturunan Sunda dan Jawa.
 

Ilustrasi


Mereka datang ke Tanah Jawa atas petunjuk ayah mereka, para brahmana. Menurut petunjuk gaib yang diterima, putri-putri mereka diperintah untuk melakukan pengembaraan ke timur menuju Jawa. Singkat cerita di sebuah sungai dekat hutan, Jaka Tarub bertemu dengan ketujuh Putri Brahmana beserta punggawa yang mengawalnya. Karena suatu maksud ketujuh wanita itu menyuruh Jaka Tarub memilih salah satu dari mereka.

Joko Tarub memilih perempuan cantik yang bernama Rara Purwaci untuk diperistri. Rombongan dari negeri Parahyangan itu akhirnya kembali pulang. Namun, salah satu saudara yang bernama Rara Asri memilih untuk menemani kakaknya, Rara Purwaci.

Banyak penduduk masih mengira wanita cantik yang dibawa Joko Tarub adalah sosok bidadari dari kayangan. Sementara Joko Tarub memilih untuk diam dan malah merahasiakan jati diri dan identitas Rara Purwaci.

Hingga akhirnya Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan melahirkan seorang Putri yang diberi nama Dewi Nawangsih yang kemudian setelah dewasa diperistri oleh Raden Bondan Kejawen, putra Bhre Kertabhumi (Prabu Brawijaya V Majapahit). Sesuai pawisik yang diterima para brahmana ayah Nawang Wulan, keturunan mereka akan menurunkan raja-raja besar di Tanah Jawa.



 
Dari perkawinan Raden Bondan Kejawan dengan Nawangsih, lahir Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pendawa, dan Dewi Rara Kasihan (Nyai Ageng Ngerang).

Dari Ki Ageng Getas Pendawa, lahir Ki Ageng Selo yang berputra Ki Ageng Enis, berputra Ki Ageng Pamanahan, berputra Panembahan Senopati, Raja Mataram dan banyak lagi sosok pelaku sejarah yang telah diturunkannya.

Namun sayang meski memiliki kisah legenda yang sangat berpengaruh, kini makam Jaka Tarub ini (dikenal Ki Ageng Tarub II) tidaklah terawat. Lokasinya kurang bersih dan atap rumah yang sudah mulai lapuk.

Bapak Sutrisno seorang penjual Mie Ayam di lokasi Pesarean Jaka Tarub di Kalurahan Giring Kapanewon Paliyan ini dipercaya sebagai pemegang kunci makam, mengaku bahwa dirinya sangat sedih melihat keadaan bangunan dari Makam Jaka Tarub yang sudah mulai lapuk namun tidak ada pihak yang memberikan perhatian untuk perbaikan.

"Saya seringkali berpesan kepada peziarah, barangkali menjumpai pihak yang masih sedarah dengan Jaka Tarub agar berkenan memugar kembali makam eyangnya," ucap Sutrisno.

Penjual Mie Ayam yang sangat digemari warga dan pelancong ini juga terkadang membersihkan lokasi makam secara ikhlas dan suka rela, bahkan memberikan kayu untuk menopang atap bangunan yang mulai lapuk.

"Saya berharap sesegera mungkin bangunan ini untuk bisa dipugar agar lebih baik lagi dan akan banyak lagi peziarah yang datang," terangnya.





Selain banyaknya peziarah yang akan datang karena legenda dari sosok Jaka Tarub yang luar biasa maka situs sejarah ini tidak akan punah sebab ketidakterawatannya.

Kembali pada makam Dewi Nawang Wulan yang tidak ada di sisi makam Jaka Tarub. Legenda menceritakan bahwa Bondan Kejawen sebagai putra mantunya pernah menderita penyakit kulit. Dewi Nawang Wulan pun berhasil mengobatinya. Namun ia sendiri justru tertular penyakit tersebut. Disebabkan tidak ada yang bisa menyembuhkan maka ia pergi meninggalkan keluarganya ke selatan dan konon menyatu dengan pantai selatan.


(GalineAs)




Tonton Juga


beranda


Posting Komentar

0 Komentar