Header Ads Widget

rajawali elt ads smart biz

Dedemit Gunungkidul dan Periode Gelap Industri Film Horor Indonesia



Wonosari, (smtourtravel.online) -
Film Dedemit Gunungkidul rilis pada tanggal 17 Maret 2011. Film tersebut dibintangi oleh sejumlah artis ternama Indonesia, seperti Uli Auliani, Tasa Rudman dan Afdhal Yusman.

Secara garis besar film tersebut menceritakan mengenai kasus pembunuhan seorang gadis bernama Vicky oleh seorang mafia narkoba yang bernama Peter. Peter sendiri merupakan sahabat sekaligus bodyguard Mark (kekasih Vicky).

Pasca meninggalnya Vicky, Mark menikahi Jane yang merupakan adik kandung dari Vicky. Konflik horor film Dedemit Gunungkidul dimulai dari sini. Arwah Vicky yang penasaran serta tidak dikebumikan secara layak menghantui Mark dan Jane untuk menuntut balas. Akhirnya Jane meminta bantuan sahabatnya, yang merupakan seorang polisi, bernama Fabio untuk menyelidiki kasus kematian Vicky.
 

Penelusuran jejak kematian Vicky, akhirnya mereka lakukan dengan mendatangi lokasi terakhir Mark dan Vicky berlibur. Lokasi tersebut terletak di Gunungkidul. Pasca penelusuran mereka kembali ke rumah dan kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Mark dan Peter. Pada bagian ini akhirnya terungkap bahwa Peter yang telah menghabisi nyawa Vicky.

Melihat dari alur ceritanya, film tersebut sangat tidak sesuai dengan judul yang dipilih, yakni “Dedemit Gunungkidul”. Film tersebut bahkan sama sekali tidak mengekspose fenomena sosial maupun budaya masyarakat Gunungkidul.

Alih-alih bakal menampilkan mitos Pulung Gantung yang telah melegenda atau Urban Legend di Gunungkidul, penonton justru disuguhkan adegan-adegan erotis serta alur cerita yang tidak berurutan bahkan terkesan berantakan. Wajar saja apabila pasca shooting film Dedemit Gunungkidul, warga masyarakat Gunungkidul langsung melayangkan protes.

Dilansir dari detik.com, Warga Gunungkidul yang tergabung dalam Komunitas Kota Gaplek memprotes film berjudul 'Dedemit Gunungkidul'. Film tersebut dianggap melecehkan warga Gunungkidul dan sekedar mencari sensasi.
 



Tidak mengherankan apabila melihat kecaman dari warga Gunungkidul terhadap film Dedemit Gunungkidul. Film tersebut memang layak untuk dikritisi baik dari segi pemilihan judul, alur cerita yang sama sekali tidak menampilkan fenomena masyarakat Gunungkidul bahkan cenderung tidak masuk akal.

Namun, perlu kita lihat bahwa pada tahun 2011, industri film horor Indonesia memang sedang mengalami kemunduran. Kemunduran tersebut bukan pada jumlah film yang di produksi, melainkan pada kualitas film yang diproduksi.

Pada periode tersebut industri film horor Indonesia mengalami kemunduran ketika film horor hanya berfokus pada alur cerita yang menonjolkan erotisme perempuan, alur cerita yang berantakan serta irasional. Hal tersebut tentu sangat disayangkan.

Beberapa film horor pada periode tersebut diantaranya: Dedemit Gunungkidul, Tali Pocong Perawan, Paku Kuntilanak, Rintihan Kuntilanak Perawan, Hantu Puncak Datang Bulan, Sumpah Ini Pocong, Pocong Mupeng dan masih banyak lagi.

Film horor yang sejatinya menampilkan adegan-adegan menakutkan dengan subgenrenya masing-masing harus dirusak oleh adegan erotis serta alur cerita yang berantakan. Film horor Indonesia seharusnya bisa dibuat menjadi film horor berkelas dengan menampilkan cerita-cerita masyarakat lokal serta meproyeksikan fenomena masyarakat tanpa dibumbui hal-hal yang irasional.

Namun, hal tersebut harus terbentur dengan biaya produksi yang murah, alur cerita yang serampangan serta tidak masuk akal, estetika film yang kurang, serta nilai-nilai yang harusnya bisa disampaikan dalam film sama sekali nihil.


Sumber:
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://hot.detik.com/movie/d-1593628/film-dedemit-gunungkidul-diprotes-warga&ved=2ahUKEwiDxMay7ojtAhWoyzgGHRfMCEgQFjATegQILhAB&usg=AOvVaw1EgY_F8k0_7xs_4g2_lSPS diakses pada tanggal 17 November 2020.

Nugroho, Garin dan Dyna Herlina S. 2015. Krisis dan Paradoks Film Indonesia. Jakarta:PT Kompas Media Nusantara.
 

(Ruby)




Tonton Juga





beranda


Posting Komentar

0 Komentar